Pengembangan AntibodiMonoklonal untuk Filaria

Liliana Kurniawan*,

Indah Yuning Prapti *,

F. Partono

**, Hastini* dan Sarwintyas

** * Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan/ Departemen Kesehatan

RI, Jakarta. **

Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.ABSTRAK resep gorengan

Diagnosis pasti filariasis didasarkan atas ditemukannya mikrofilaria pada darah tepi malam hari. Pada masa prepaten,infeksi menahun dan infeksi karena satu jenis kelamin cacingdewasa, cara diagnosis ini tidak dapat diterapkan. Deteksi

antibodi kurang spesifik serta sulit untuk membedakan infeksidan masa

pengobatan. Deteksi antigen yang beredar dalam peredaran darah dengan menggunakan antibodi monoklonal diperkirakan akan dapat dipakai sebagai imunodiagnosis yang

lebih spesifik pada filariasis. Dalam rangka pengembangan antibodi monoklonal ter-

hadap filaria, dilakukan imunisasi pada Balb/c yang menggunakan L3 (larva-3) resep roti dan cacing dewasa B.malayi,

dilanjutkan fusi sel limfosit dari limpa Balb/c tersebut dengan sel mieloma SP2.

Dari 40 fusi dengan sumur biakan sejumlah 6729, berhasil diperoleh 656 (9,7%) sumur iakan sel hibrid. Dari 656 sumur

ersebut 24 (3,8%) menunjukkan reaksi positif terhadap L3

pada ELISA. Pada biakan sumur yang menunjukkan reaksipositif dengan ELISA

dilakukan kloning dengan cara limitingdilution, sehingga didapat 11 sumur biakan yang bereaksipositif. Rekloning dilakukan pada sumur biakan yang me-

nunjukkan harga ELISA tinggi dan kemudian berhasil diper- oleh hibrida yang bersifat monoklon. Usaha untuk menghasilkan produksi antibodi monoklonal

di dalam Balb/c (cairan ascites) sedang dikerjakan. PENDAHULUAN

Filariasis merupakan penyakit yang disebarkan oleh nya- muk, trsebar di berbagai resep puding daerah di Indonesia. Penyakit fi- lariasis merupakan penyakit menahun, yang dapat juga meng- akibatkan cacat tubuh. Diagnosis pasti atas penyakit ini di-

tegakkan melalui pemeriksaan darah tepi yang diambil pada waktu malam hari.Pada masa prepaten, infeksi asimtomatik menahun dengan gejala lanjut seperti elefantiasis, keadaan infeksi dengan hanyasatu jenis kelamin cacing dewasa atau mikrofilaremia yangrendah; mikrofilaria tidak ditemukan di peredaran darah’ .

Dalam keadaan tersebut, pengambilan darah tepi tidak dapatdipakai untuk mendukung diagnosis filariasis. Selain itu, pengambilan darah tepi secara teknis merupakan hambatan karena harus dilakukan pada waktu tertentu dan kurang di-

sukai penderita. Dipikirkan kemungkinan menemukan antigen di dalam cairan resep brownies tubuh lain misalnya air seni, yang mungkin lebih mudah dilaksanakan di lapangan.

Pendekatan imunodiagnosis dengan cara deteksi anti- bodi ternyata kurang spesifik dan tidak dapat dipakai untuk membedakan infeksi paten dan keadaan pascapengobatan.

Tidak jelas pula pembedaan antara penduduk mikrofilaremik dan amikrofilaremik serta ubungan yang tak jelas dengan Derajat mikrofilaremia. Antibodi terhadap filariasis ini dapat ditemukan pada pasca pengobatan untuk jangka waktu yanglama .

Circulating antigen adalah metabolit yang dikeluarkanoleh parasit hidup yang dapat ditemukan di peredaran darah atau dalam cairan tubuh lain, misalnya pada resep risoles air seni

Penggunaan poliklonal antibodi menunjukkan reaksi si- lang dengan cacing nematoda lain. Antibodi monoklonal GIB–13 telah digunakan untuk deteksi circulating antigen pada filariasis bancrofti dengan menggunakan immunoradio-

metric assay 4. Ditunjukkan adanya hubungan yang kuatantara ditemukannya circulating antigen tersebut dengan mikrofilaremia. Dengan menggunakan AA–3–44 monoklonal antibodi yang dikembangkan dari surface antigen B.malayi, dapat ditiinjukkan adanya antigen di dalam air seni,tetapi yang tidak menunjukkan resep bolu hubungan dengan derajatmikrofilaremia. Pendekatan imunodiagnosis dengan cara deteksi antigen ini diharapkan dapat menentukan adanya prepaten infeksi yang mana cacing dewasa sudah berkembang dalam tubuh penderita tetapi mikrofilaria tidak dapat di- temukan. Pendekatan cara ini memerlukan antibodi monoklonal yang sifatnya spesifik terhadap suatu komponen antigen dari cacing filaria.

Pengembangan teknik hibridoma untuk menghasilkan antibodi monoklonal telah dilakukan dengan menggunakan antigen Larva–3 (L3) dan cacing dewasa dengan hasil iakan onoklonal yang positip terhadap L3 dengan menggunakan teknik ELISA. Diharapkan antibodi monoklonal yang dihasil-kan dapat dipakai untuk imunodiagnosis filariasis. resep bakso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: